Malam hari aku terus memandangi ponselku, tak ada satupun sms atau telepon yang masuk ke ponselku. Akupun mulai tenggelam kedalam kenangan-kenangan indahku bersama Putra ”mantan pacarku” yang ku jalin selama 14 bulan. Dalam benakku, aku bertanya, apa tidak ada kesempatan untuk kembali menjalin kisah kasih lagi bersamanya..?? Seketika anganku buyar ketika ponselku berbunyi. Ternyata Putra menelponku.
Putra berbicara berputar-putar, tetapi intinya ia ingin mengajakku untuk kembali mengisi ruang dihatinya. Akupun terdiam, bertanya dalam hati “haruskah kuterima ia kembali..?” hati kecilku berkata “iya” bibirku pun berucap seakan sependapat dengan hatiku. Dan akhirnya akupun kembali berpacaran dengan Putra.
Terlepas dari semua itu, di sekolahku yang baru, aku menemukan 3 orang sahabat yang begitu baik padaku, mereka adalah Asti, Widia, dan Adit yang selalu setia mendengar segala ocehanku.
Dikelasku kini ada seorang cowok yang bernama Raka. Aku tidak terlalu mengenal dirinya, bahkan mengobrol pun kami hampir tidak pernah. Tetapi entah kenapa setelah empat bulan berada dikelas ini, aku mulai dekat dengannya. Kedekatan itupun terjadi karena awalnya ia mengirim sms kepadaku. Ia pun mengaku sebagai Aldi yang berasal dari sekolah lain. Dari Widia aku tau bahwa Aldi itu sebenarnya Raka. Aku kira ia hanya iseng, karena dikelas ia termasuk orang yang doyan bercanda. Tetapi betapa bodohnya aku, karena aku mau meladeni semua sms maupun telponnya, seperti layaknya kami berpacaran. Sampai-sampai akupun menjadi lebih jarang membalas sms Putra.
Teman-temanku sudah sering mengingatkanku kalau aku sudah memiliki Putra dan Rakapun juga telah memiliki seseorang disampingnya. Dan sebuah kata yang selalu aku ingat, sebuah kata yang selalu di ingatkan oleh Adit kepadaku “jangan pernah menyesal atas semua keputusanmu”. Namun sayang, aku tidak pernah menghiraukan omongan teman-temanku itu. Hingga akhirnya hubunganku dengan Rakapun semakin dekat.Didalam dirinya aku menemukan sesosok orang yang sangat unik dan perhatiannya kepadaku yang bahkan lebih besar dari pada perhatiannya Putra kepadaku. Akupun mulai menyukai dan menyayangi Raka, tapi disatu sisi aku juga menyayangi Putra. Kini dihatiku ada dua orang yang sangat spesial bagiku.
Semakin hari hubunganku dengan Raka semakin dekat. Kamipun mulai sering keluar bareng. Dari yang hanya sekedar jalan-jalan, mengunjungi rumah teman-teman kami, hingga belajar bareng sekalipun. Hubungan yang sebenarnya ingin kami rahasiakan ini, kini telah diketahui oleh teman-teman sekelasku. Parahnya lagi Putra pun mulai curiga dengan perubahan sikapku kepadanya.
Aku sadar aku memang salah. Berada diantara dua pilihan memang sangat berat. Aku dan Raka sama-sama sudah mempunyai pujaan hati. Tapi walau begitu ungkapan rasa sayang pun terlontar dari kami berdua. Hingga akhirnya kamipun sepakat untuk memutuskan cinta kami masing-masing. Tekadku sudah bulat untuk putus dengan Putra. Akhirnya aku dan Putrapun telah putus.
Aku kira setelah aku putus dengan Putra dalam usia pacaran yang sudah 19 bulan, Raka juga akan memutuskan cinta dengan pacarnya lalu menyayangiku sepenuh hatinya. Namun semua itupun tidak terjadi. Hubungan kamipun mengambang, tanpa pernah ada satu status yang jelas, seperti layaknya batu apung dilaut yang tak akan pernah tenggelam menemui dasar lautnya. Aku sangat kecewa pada Raka. Ia berkata “aku akan putus dengan dia tetapi aku juga tidak akan berpacaran denganmu, karena dalam waktu dekat ini aku ingin sendiri. Tapi aku mohon jangan rubah sikapmu kepadaku, kamu jangan menjauh dariku, tetaplah kamu mempedulikan dan memperhatikanku seperti saat ini”.
Aku terdiam tidak tau harus berkata apa. Aku menyesal tidak mendengarkan ucapan Asti, Widia dan Adit. Dan beberapa hari kemudian aku mendengar berita dari teman-teman Raka, bahwa ternyata ia masih menjalin hubungan dengan pacarnya itu. Betapa sakit hatinya aku mendengar berita itu, ternyata apa yang dikatakan Raka tidak sesuai dengan apa yang ia lakukan. Akupun benar-benar kecewa terhadap Raka. Kini test semester pun tiba, dan tidak ada lagi sesosok Putra yang selalu mengingatkanku dan memberikanku motivasi untuk belajar. Kini hari-hariku hanya kuhabiskan bersama teman-temanku, tanpa ada sesosok orang yang kusayangi menemaniku.
Hari ini mentari pagi tersenyum dan cahayanya sangat indah, seakan-akan ingin menghiburku. Ponselku pun berbunyi, ternyata Raka mengirim sms kepadaku. Dalam smsnya tertulis “nanti setelah selesai test, aku ingin bicara suatu hal kepadamu”. Aku membalas smsnya dan berusaha untuk menjawab seperlunya saja “IYA”. Aku menjawab ”iya” karena aku fikir dia akan membicarakan kejelasan hubungan kami. Dan akhirnya kamipun bertemu, saat itupun aku bertanya kepadanya tentang bagaimana kejelasan hubungan kami selanjutnya, dan ia pun menjawab ”aku gak bisa milih antara kalian berdua, kalian sama-sama orang yang spesial dalam hatiku, kalian berdua sama-sama orang yang aku sayang, dan aku gak bisa membeda-bedakan kalian berdua”. ” Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita waktu itu ??” tanyaku kembali kepada Raka. Raka pun menjawab ” maafkan aku karena tidak bisa menepatinya, aku tidak dapat memilih antara kalian berdua”.
Akupun terus mendesak Raka untuk segera menentukan pilihannya. Setelah lama terdiam, ia pun berkata ” aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian, karena aku tidak akan pernah bisa bahagia dengan pilihanku itu. Karena di lain pihak aku juga telah menyakiti orang yang kusayangi. Dan aku pun mengambil keputusan untuk tidak memilih salah satu dari kalian berdua”. Raka pun segera mengeluarkan ponselnya untuk mengatakan kepada pacarnya bahwa ia ingin putus. Tapi aku melarangnya untuk melakukan itu, aku pun berkata “Jangan putusin pacar kamu, semua ini kita yang mulai. Jangan buat dia sakit hati. Karena tidak mengerti dan tidak tau apa-apa mengenai masalah ini. Cukup aku saja yang merasakan semua rasa sakit ini”. Setelah berkata itu kemudian akupun segera beranjak pergi meninggalkan Raka, aku sudah tidak bisa menahan lagi perasaan sakit hatiku mendengar keputusannya.
Aku tidak menyangka seorang yang egois seperti aku, dapat berkata sebijaksana itu didepannya. Tapi ketidak egoisanku membuat aku sangat sedih. Ingin mendapatkan keindahan bintang yang sempurna, namun akhirnya satu bintang pun tidak dapat aku raih. Untunglah sahabat-sahabatku yang extra super cerewet selalu ada bersamaku, jadi aku berfikir ”mungkin ini memang waktuku untuk menjalani hari-hariku hanya bersama teman-temaku”.
Dan setelah kejadian itu aku memutuskan untuk menjauh dari Raka, namun itu semua tidak sanggup kulakukan. Akhirnya kini akupun dekat dengan Raka dan Putra selayaknya hanya sekedar sahabat baik yang tidak pernah terjadi apa-apa. Walaupun dibalik itu, sebenarnya aku masih sangat menyayangi Raka. Dengan harapan, satu bintang yang kini tertunda untuk kuraih, akan dapat kuraih suatu saat nanti.